Duck Syndrome: Krisis Mental Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Solusi Islam

 

Oleh: Mufakkirot Fathinah, SE (Praktisi Pendidikan)

Di linimasa, semua tampak baik-baik saja. Senyum di feed Instagram, prestasi di LinkedIn, dan kebahagiaan di TikTok. Namun, di balik layar, banyak mahasiswa menahan napas di tengah tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan krisis makna hidup. Fenomena ini dikenal sebagai Duck Syndrome—istilah yang menggambarkan seseorang yang tampak tenang di permukaan, padahal di bawahnya kakinya mengayuh panik untuk tetap bertahan.

Istilah ini pertama kali muncul di Universitas Stanford, menggambarkan mahasiswa yang hidup dalam tekanan performa. Di Indonesia, gejala ini kian nyata. Mahasiswa terlihat “aktif dan produktif”, namun di balik prestasi itu ada insomnia, kecemasan, dan kehilangan arah hidup.

Menurut Psych Central dan Psychiatry Online, sindrom ini banyak muncul di kalangan remaja dan mahasiswa yang hidup dalam sistem kompetitif—lingkungan yang menuntut untuk “selalu terlihat baik”. Sebuah paradoks: semakin tinggi pencapaian, semakin dalam kesepian.

Tekanan Kapitalisme dan Krisis Makna

Penyebabnya tidak bisa dilepaskan dari sistem yang membentuk cara kita berpikir dan hidup—Kapitalisme. Sistem ini mengajarkan bahwa nilai manusia diukur dari produktivitas dan daya saing, bukan dari moralitas atau ketaatan. Semua hal diukur dengan standar ekonomi: efisiensi, profit, dan pertumbuhan.

Menurut Dr. Anisa Dwi Utami (IPB University), tekanan kelas menengah hari ini adalah bukti nyata bahwa sistem ekonomi kapitalistik tidak ramah pada manusia. “Mereka dituntut tampil mapan di tengah inflasi dan stagnasi pendapatan,” ujarnya. Di saat yang sama, data Global Flourishing Study (Harvard University, Gallup, Baylor University) menunjukkan paradoks besar: Indonesia—negara berkembang dengan banyak keterbatasan material—justru menempati posisi tertinggi dalam indeks kesejahteraan non-material, seperti makna hidup dan relasi sosial. Fakta ini meruntuhkan mitos lama bahwa pertumbuhan ekonomi otomatis berarti kesejahteraan.

Kapitalisme gagal memahami bahwa manusia bukan sekadar mesin ekonomi. Ia membentuk generasi perfeksionis yang kehilangan makna, menilai diri dari angka dan status, bukan dari nilai hidup yang sejati.

Kritik Fundamentalis terhadap Ekonomi Kapitalisme

Masalah bukan hanya pada mentalitas kompetitif, tapi pada struktur ekonomi kapitalisme itu sendiri.

  1. Kebebasan Kepemilikan Absolut.
    Kapitalisme membolehkan individu atau korporasi menguasai sumber daya vital seperti energi, air, dan pangan atas nama “efisiensi pasar”. Akibatnya, kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Data Oxfam 2024 menunjukkan 1% orang terkaya menguasai hampir separuh kekayaan dunia. Ketimpangan ini bukan kecelakaan, tapi konsekuensi logis dari sistem yang menjadikan kepemilikan pribadi tak terbatas.
  2. Negara Hanya Regulator, Bukan Pelayan Umat.
    Dalam kapitalisme, negara tidak berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat. Ia hanya “menjaga pasar tetap kompetitif”. Maka ketika harga beras, BBM, dan pendidikan naik, masyarakat dibiarkan menanggung sendiri beban hidupnya. Negara sibuk mengatur pajak dan utang, bukan menyejahterakan rakyat.
  3. Pertumbuhan Mengabaikan Distribusi.
    Pembangunan kapitalistik berfokus pada pertumbuhan rata-rata, bukan kesejahteraan individu. Selama PDB naik, kemiskinan struktural dan pengangguran terselubung dianggap “risiko wajar”. Padahal Islam menilai kemakmuran sejati bukan dari peningkatan produksi, melainkan dari distribusi harta yang adil.
  4. Kebahagiaan Didefinisikan Secara Material.
    Kapitalisme meyakini bahwa kebahagiaan datang dari konsumsi dan gaya hidup. Inilah yang membuat generasi muda terjebak dalam budaya self-branding dan hustle culture, hingga akhirnya muncul krisis makna dan kesehatan mental seperti Duck Syndrome.

Kapitalisme pada akhirnya tidak hanya menciptakan ketimpangan ekonomi, tapi juga kehampaan eksistensial. Ia membentuk manusia yang sibuk bekerja, tapi tidak tahu untuk apa.

Islam: Paradigma Seimbang dan Manusiawi

Islam datang membawa keseimbangan antara aspek spiritual, sosial, dan ekonomi. Nilai manusia bukan diukur dari kekayaan, tapi dari ketakwaan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Islam memandang kehidupan bukan sekadar untuk bersaing, melainkan beribadah:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dalam sistem Islam, negara (Khilafah) berperan sebagai pelayan rakyat, bukan pelindung korporasi. Sumber daya alam menjadi milik umum, dikelola negara untuk kemaslahatan umat. Pajak dan utang luar negeri tidak menjadi penopang utama keuangan negara, karena pemasukan utama berasal dari pengelolaan aset publik dan zakat.

Islam juga memastikan distribusi kekayaan berjalan adil melalui mekanisme zakat, infak, waris, dan larangan riba. Dengan itu, setiap individu memiliki akses terhadap kebutuhan pokok tanpa harus terjerat sistem kompetitif yang menindas.

Refleksi: Saatnya Generasi Muslim Melepas Beban Palsu

Duck Syndrome adalah gejala dari sistem yang memuja citra, bukan substansi. Generasi Muslim tidak akan menemukan kedamaian jika terus mengukur hidup dengan standar kapitalistik. Saatnya reorientasi nilai—dari validasi manusia menuju ridha Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang imam (pemimpin) adalah perisai; umat berjuang di belakangnya dan berlindung di bawahnya.” (HR. Muslim)

Kita membutuhkan sistem yang benar-benar memanusiakan manusia, bukan menekan mereka dengan ilusi kebebasan dan kesuksesan.

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang beriman?” (QS. Al-Maidah [5]: 50)

Kesimpulan

Duck Syndrome seharusnya menjadi sinyal bahwa peradaban kapitalisme sedang krisis makna. Islam bukan sekadar alternatif moral, tapi satu-satunya solusi sistemik untuk mengembalikan keseimbangan hidup manusia—antara akal, hati, dan aturan Allah SWT.

 


Comments