Krisis Iklim 2025: Alarm Kerusakan Sistemik Akibat Kapitalisme Global
Setiap pagi kita bangun dengan anggapan bahwa bumi akan tetap sama.
Matahari bersinar hangat, seolah-olah dunia baik-baik saja dan akan terus
menemani produktivitas manusia seperti biasa. Padahal kenyataannya tidak
demikian. Perlahan tapi pasti, kondisi bumi berubah lebih cepat dari kemampuan
kita beradaptasi. Suhu yang semakin panas di musim kemarau, curah hujan ekstrem
yang semakin sering, hingga bencana alam yang terjadi tiba-tiba, semuanya
menjadi tanda bahwa ada masalah serius pada kondisi bumi ini. Laporan iklim
terbaru bukan sekadar data tapi menjadi peringatan darurat untuk manusia.
Kondisi ini selaras dengan data yang dipaparkan oleh Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Maret 2025. BMKG menyatakan bahwa
perubahan iklim sudah dalam “tahap kritis” di Indonesia: peningkatan suhu dan
kadar Gas Rumah Kaca (GRK) berkorelasi dengan intensitas hujan ekstrem lebih
sering. (hijau.bisnis.com)
Dunia sebenarnya tidak
diam. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari level individu hingga kerja
sama antarnegara. Di tingkat individu, masyarakat mulai bergerak melalui
edukasi hemat energi, gerakan less waste, pengelolaan sampah mandiri
menjadi produk bernilai, pembuatan sumur resapan, hingga penanaman pohon.
Indonesia pun menyampaikan komitmen untuk melakukan transisi energi hijau.
Presiden Prabowo menegaskan visi Indonesia mencapai net zero emission
sebelum 2050 melalui berbagai langkah, seperti peningkatan penggunaan biodiesel
dan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi energi baru
terbarukan (EBT).
Di level global, forum
tahunan COP (Conference of Parties) terus digelar sebagai ruang
negosiasi iklim. Tahun ini, COP30 akan dilaksanakan di Belém, Brasil,
membahas isu besar seperti pengurangan emisi, adaptasi, pembiayaan iklim,
pelestarian hutan, energi terbarukan, hingga keadilan iklim. Namun, forum
internasional sebesar apa pun tidak akan efektif jika negara-negara hanya
berhenti pada janji dan tidak serius dalam implementasi.
Meskipun rencana
penanganan iklim terus disusun, realisasinya masih menghadapi banyak hambatan.
Aturan pemerintah seringkali kuat di atas kertas tetapi lemah di lapangan.
Kepentingan ekonomi jangka pendek membuat energi fosil tetap menjadi pilihan
utama. Deforestasi berjalan masif, sementara pendanaan untuk energi bersih, terutama
di negara berkembang masih jauh dari cukup. Industri besar pun enggan berubah
karena khawatir kehilangan keuntungan. Konflik izin usaha tambang atau
perkebunan yang berbenturan dengan masyarakat lokal menunjukkan bahwa kebijakan
iklim sering kali dikalahkan oleh dorongan ekonomi yang sempit.
Krisis iklim bukan semata
persoalan kurangnya teknologi, lemahnya regulasi, atau minimnya kesadaran
masyarakat. Akar masalahnya lebih dalam: sistem Kapitalisme yang menjadikan
keuntungan sebagai tujuan tertinggi, bahkan ketika itu berarti merusak bumi. Alam
dihitung sejauh menghasilkan profit, sementara kerusakan dianggap sebagai
“biaya samping” yang boleh dibebankan kepada publik. Karena itu energi fosil
terus dipertahankan, hutan terus ditebang, dan industri melanggengkan praktik
merusak lingkungan. Selama sistem ini menjadi dasar kehidupan kita, alam akan
terus dirusak oleh tangan-tangan serakah yang hanya mengejar untung tanpa
memikirkan generasi yang akan datang.
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum: 41)
Sudah saatnya manusia
kembali pada aturan Sang Pencipta. Islam memiliki pengaturan khas yang
memastikan kelestarian alam terjaga. Negara dalam sistem Islam dipimpin oleh
seorang Khalifah yang berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan
bertanggung jawab penuh atas pengelolaan sumber daya alam serta terpenuhinya
kebutuhan masyarakat. Individu dididik melalui sistem pendidikan Islam agar
sadar akan perannya sebagai khalifah fil ardh (penjaga bumi). Masyarakat
pun terbiasa dengan budaya amar ma’ruf nahi munkar sehingga segala
potensi kerusakan dapat dicegah sejak awal.
Pada akhirnya, krisis
iklim adalah alarm keras bagi manusia. Ia mengingatkan kita bahwa bumi tidak
rusak karena satu bencana besar, tetapi karena ulah manusia yang hidup jauh
dari aturan Sang Pencipta. Jika kita ingin bumi tetap lestari dan menjadi ‘rumah’
yang aman bagi generasi mendatang, maka kita harus kembali pada aturan Allah.
Hanya dengan pengaturan Islam dalam naungan Khilafah, pengelolaan alam dapat
berjalan sesuai petunjuk-Nya, adil, terjaga, dan berpihak pada kelestarian
bumi, bukan pada kepentingan segelintir pihak. Wallahualam bissawab.
.png)
.png)

Comments
Post a Comment