Generasi Luka dan Lahirnya Industri Gaya Hidup: Saatnya Menemukan Jalan Pulang dalam Paradigma Islam
oleh: Mufakkirot Fathinah, SE (Praktisi Pendidikan)
Setiap hari, di media sosial kita melihat pemandangan yang sama: anak muda yang semakin tenggelam dalam kegelisahan. Yang satu mengaku terjangkit HIV meski usianya baru 20-an. Yang lain curhat dipukul pacarnya. Ada pula cerita remaja yang kecanduan narkoba karena salah pergaulan, atau mahasiswa yang tiba-tiba viral karena konten sensual yang sengaja dibuat demi like dan uang tambahan.
Bila kita tarik ke atas, semua ini menunjukkan satu pola besar: generasi yang sedang terluka. Dan luka ini tidak muncul tiba-tiba.
Di balik maraknya pacaran toksik, HIV/AIDS, depresi, dan penyalahgunaan narkoba, ada sebuah arus besar yang mengalir diam-diam: industri gaya hidup yang menjadikan syahwat, validasi visual, dan kedekatan emosional sebagai komoditas ekonomi. Industri yang menjadikan manusia bukan lagi manusia—melainkan produk.
Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan pribadi semata. Ia adalah bagian dari struktur sosial yang jauh lebih besar. Struktur yang dibangun oleh kapitalisme modern—yang memonetisasi setiap aspek hidup, termasuk tubuh dan hubungan manusia.
Karena ternyata, ketika Islam diterapkan sebagai sistem hidup, industri ini tidak akan mungkin tumbuh, dan masyarakat akan dilindungi sejak dari akar.
Hiruk-Pikuk Pergaulan Modern: Ketika Tubuh Jadi Ladang Ekonomi
Apa hubungan semua ini dengan industri besar?
Jawabannya: segala.
Dunia hari ini dikuasai oleh industri raksasa bernilai ratusan miliar dolar yang memanfaatkan syahwat sebagai pasar. Dari platform subscription dewasa, iklan sensual, aplikasi kencan, konten viral yang menormalisasi hubungan bebas, hingga fashion dan musik yang dibangun di atas ide bahwa tubuh adalah alat mendapatkan atensi.
Industri ini bekerja layaknya mesin. Ia menciptakan kebutuhan semu, memompa konten ke layar kita, lalu mengubahnya menjadi uang. Semakin kabur batas-batas moral, semakin besar pasar mereka.
Dan remaja menjadi mangsa empuk. Mereka belum selesai bertemu jati diri, tapi sudah harus berhadapan dengan industri global yang bekerja 24 jam tanpa lelah.
Menabuh Gong Kesadaran: Mengapa Nasihat Tidak Cukup?
Selama ini, kita sibuk memberi saran:
Oleh karena itu, Islam menghadirkan pendekatan yang jauh lebih besar dari sekadar nasihat moral. Islam menyusun sistem kehidupan yang mengatur manusia, keluarga, masyarakat, hingga negara dengan pola yang menciptakan lingkungan sehat secara menyeluruh.
Dan di sinilah banyak orang keliru: Islam bukan hanya serangkaian nasihat; ia adalah peradaban lengkap.
Bagaimana Islam Menyembuhkan: Sebuah Sistem yang Menjaga Manusia dari Akar hingga Atas
Pergaulan: Melindungi Martabat, Bukan Membatasi Kebebasan
Dalam pandangan Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah urusan sosial, moral, dan bahkan peradaban. Karena itu, Allah memulai dari hal yang paling mendasar: pandangan.
“Katakanlah kepada laki-laki beriman agar menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya.”(QS. An-Nur: 30)
Rasulullah ﷺ juga melarang khalwat, karena di sanalah syetan menemukan celah. Interaksi sosial tetap boleh—belajar, bekerja, berdagang—namun ada batas profesional dan rasa hormat yang dijaga.
Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki aturan busana, bukan untuk mengekang, tetapi untuk menempatkan kehormatan di atas komodifikasi tubuh. Islam melindungi mereka dari menjadi objek seksual di ruang publik.
Jika pergaulan dibingkai seperti ini, bayangkan betapa kecilnya peluang industri sensual mengambil tempat.
Pendidikan: Mencetak Generasi Berkepribadian Islam
Sejak zaman Rasulullah ﷺ, Dar Al-Arqam menjadi ruang transformasi pemikiran. Pada masa Khilafah, kurikulum memadukan sains, fikih, akhlak, dan pembangunan karakter. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembina kepribadian.
Inilah mengapa masyarakat Islam pada masa keemasannya mampu menghasilkan ilmuwan hebat sekaligus memiliki integritas moral.
Ekonomi Islam: Mesejahterakan Umat dan Mematikan Industri Maksiat
Dalam Islam, setiap produk dan jasa yang haram otomatis terlarang untuk dijual. Nabi ﷺ bersabda:
“Jika Allah mengharamkan sesuatu, maka Ia mengharamkan harga (hasil jualnya).”(HR. Abu Dawud)
Itu berarti seluruh industri pornografi, prostitusi, minuman keras, narkoba, jasa seks, dan media perangsang tidak mempunyai tempat dalam pasar Islam.
Ketika rakyat sejahtera, tidak ada alasan untuk menjual tubuh atau memproduksi konten sensual demi ekonomi.
Hukum: Bukan Kejam, Tetapi Menjaga Kehormatan Manusia
Islam menerapkan hukum yang tegas terhadap kejahatan seksual, namun dengan syarat pembuktian yang sangat ketat. Ini melindungi masyarakat dari kerusakan sambil mencegah kriminalisasi berlebihan.
Sanksi terhadap zina, pelecehan, prostitusi, dan produksi konten maksiat diberlakukan tidak untuk menghukum semata, tetapi untuk menjaga kehormatan, mencegah kriminal, dan melindungi generasi.
Praktik pada masa sahabat dan Khilafah menunjukkan bahwa kejahatan seksual sangat jarang terjadi, bukan karena masyarakatnya suci, tetapi karena struktur sosialnya sehat.
Negara: Pondasi Tertinggi Yang Menjaga Suasana Bersih
Menutup Lingkaran: Perubahan Harus Menjadi Sistemik
Fenomena pergaulan rusak hari ini bukan sekadar fenomena viral, tetapi hasil dari desain peradaban. Kita tidak bisa hanya menambal lubang dengan nasihat moral. Tidak bisa hanya berharap pada program literasi. Tidak bisa hanya menumpukan harapan pada kampanye digital.
Kita membutuhkan sistem hidup yang benar.
Sistem yang melindungi mata, hati, keluarga, ekonomi, dan negara dari arus merusak. Sistem yang pernah melahirkan peradaban besar dengan manusia-manusia berintegritas tinggi.
Dan sistem itu bernama: Islam.
Bila kita ingin generasi hari ini pulih dari luka, jalan itu sudah tersedia—tinggal apakah kita berani menapakinya atau tidak.
.png)
.png)

Comments
Post a Comment