Generasi Luka dan Lahirnya Industri Gaya Hidup: Saatnya Menemukan Jalan Pulang dalam Paradigma Islam


oleh: Mufakkirot Fathinah, SE (Praktisi Pendidikan)

Setiap hari, di media sosial kita melihat pemandangan yang sama: anak muda yang semakin tenggelam dalam kegelisahan. Yang satu mengaku terjangkit HIV meski usianya baru 20-an. Yang lain curhat dipukul pacarnya. Ada pula cerita remaja yang kecanduan narkoba karena salah pergaulan, atau mahasiswa yang tiba-tiba viral karena konten sensual yang sengaja dibuat demi like dan uang tambahan.

Bila kita tarik ke atas, semua ini menunjukkan satu pola besar: generasi yang sedang terluka. Dan luka ini tidak muncul tiba-tiba.

Di balik maraknya pacaran toksik, HIV/AIDS, depresi, dan penyalahgunaan narkoba, ada sebuah arus besar yang mengalir diam-diam: industri gaya hidup yang menjadikan syahwat, validasi visual, dan kedekatan emosional sebagai komoditas ekonomi. Industri yang menjadikan manusia bukan lagi manusia—melainkan produk.

Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan pribadi semata. Ia adalah bagian dari struktur sosial yang jauh lebih besar. Struktur yang dibangun oleh kapitalisme modern—yang memonetisasi setiap aspek hidup, termasuk tubuh dan hubungan manusia.

Dan pada titik inilah, kita perlu mengembalikan pertanyaan yang paling mendasar:
Apakah kita benar-benar memahami bagaimana Islam memandang pergaulan, masyarakat, dan sistem kehidupan?

Karena ternyata, ketika Islam diterapkan sebagai sistem hidup, industri ini tidak akan mungkin tumbuh, dan masyarakat akan dilindungi sejak dari akar.


Hiruk-Pikuk Pergaulan Modern: Ketika Tubuh Jadi Ladang Ekonomi

Tidak ada yang lebih jujur dalam menelanjangi realitas hari ini selain data.
Demografi penderita HIV di Indonesia menunjukkan mayoritas berasal dari kelompok usia muda—usia yang biasanya sedang kuliah, bekerja, atau merintis masa depan. Kasus kekerasan dalam pacaran meningkat setiap tahun, bahkan sudah masuk ke ranah digital. Penelitian UI menunjukkan anak yang pacaran sejak dini mengalami kecemasan, depresi, dan ketidakstabilan emosional lebih besar dibandingkan yang tidak.

Apa hubungan semua ini dengan industri besar?

Jawabannya: segala.

Dunia hari ini dikuasai oleh industri raksasa bernilai ratusan miliar dolar yang memanfaatkan syahwat sebagai pasar. Dari platform subscription dewasa, iklan sensual, aplikasi kencan, konten viral yang menormalisasi hubungan bebas, hingga fashion dan musik yang dibangun di atas ide bahwa tubuh adalah alat mendapatkan atensi.

Industri ini bekerja layaknya mesin. Ia menciptakan kebutuhan semu, memompa konten ke layar kita, lalu mengubahnya menjadi uang. Semakin kabur batas-batas moral, semakin besar pasar mereka.

Dan remaja menjadi mangsa empuk. Mereka belum selesai bertemu jati diri, tapi sudah harus berhadapan dengan industri global yang bekerja 24 jam tanpa lelah.


Menabuh Gong Kesadaran: Mengapa Nasihat Tidak Cukup?

Selama ini, kita sibuk memberi saran:

“Jaga diri.”
“Jangan pacaran.”
“Hati-hati pada pergaulan.”

Semua saran ini benar, tetapi mereka bekerja di level individu, bukan sistem. Sementara industri yang merusak ini bekerja di level struktural.
Tentu saja nasihat tidak akan cukup untuk melawan perusahaan-perusahaan global dengan dana marketing triliunan dan teknologi kecerdasan buatan yang menargetkan remaja berdasarkan kelemahan psikologis mereka.

Oleh karena itu, Islam menghadirkan pendekatan yang jauh lebih besar dari sekadar nasihat moral. Islam menyusun sistem kehidupan yang mengatur manusia, keluarga, masyarakat, hingga negara dengan pola yang menciptakan lingkungan sehat secara menyeluruh.

Dan di sinilah banyak orang keliru: Islam bukan hanya serangkaian nasihat; ia adalah peradaban lengkap.


Bagaimana Islam Menyembuhkan: Sebuah Sistem yang Menjaga Manusia dari Akar hingga Atas

Pergaulan: Melindungi Martabat, Bukan Membatasi Kebebasan

Dalam pandangan Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah urusan sosial, moral, dan bahkan peradaban. Karena itu, Allah memulai dari hal yang paling mendasar: pandangan.

“Katakanlah kepada laki-laki beriman agar menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)

Ayat berikutnya diarahkan kepada perempuan dengan perintah yang sama.
Menundukkan pandangan bukanlah sekadar larangan memandang lawan jenis, tetapi mekanisme keamanan sosial. Bila rangsangan visual dijaga, peluang maksiat berkurang, dan industri yang bergantung pada rangsangan itu pun otomatis melemah.

Rasulullah ﷺ juga melarang khalwat, karena di sanalah syetan menemukan celah. Interaksi sosial tetap boleh—belajar, bekerja, berdagang—namun ada batas profesional dan rasa hormat yang dijaga.

Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki aturan busana, bukan untuk mengekang, tetapi untuk menempatkan kehormatan di atas komodifikasi tubuh. Islam melindungi mereka dari menjadi objek seksual di ruang publik.

Jika pergaulan dibingkai seperti ini, bayangkan betapa kecilnya peluang industri sensual mengambil tempat.


Pendidikan: Mencetak Generasi Berkepribadian Islam

Pendidikan dalam Islam tidak netral nilai seperti pendidikan modern.
Ia dibangun di atas akidah Islam, mencetak manusia yang memahami halal-haram, memiliki pola pikir benar, dan pola jiwa yang terarah.

Sejak zaman Rasulullah ﷺ, Dar Al-Arqam menjadi ruang transformasi pemikiran. Pada masa Khilafah, kurikulum memadukan sains, fikih, akhlak, dan pembangunan karakter. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembina kepribadian.

Inilah mengapa masyarakat Islam pada masa keemasannya mampu menghasilkan ilmuwan hebat sekaligus memiliki integritas moral.

Bandingkan dengan hari ini:
Pendidikan mengajarkan ilmu, tetapi mengabaikan nilai. Akibatnya, cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral.


Ekonomi Islam: Mesejahterakan Umat dan Mematikan Industri Maksiat

Industri asusila hanya hidup karena ada ruang ekonomi untuk itu.
Kapitalisme membuka ruang tersebut lebar-lebar. Islam tidak.

Dalam Islam, setiap produk dan jasa yang haram otomatis terlarang untuk dijual. Nabi ﷺ bersabda:

“Jika Allah mengharamkan sesuatu, maka Ia mengharamkan harga (hasil jualnya).”
(HR. Abu Dawud)

Itu berarti seluruh industri pornografi, prostitusi, minuman keras, narkoba, jasa seks, dan media perangsang tidak mempunyai tempat dalam pasar Islam.

Ekonomi Islam juga memastikan distribusi kekayaan yang adil melalui zakat, larangan riba, pengelolaan kepemilikan umum, dan kehadiran Baitul Mal.
Negara menyediakan kebutuhan dasar rakyat: sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Ketika rakyat sejahtera, tidak ada alasan untuk menjual tubuh atau memproduksi konten sensual demi ekonomi.


Hukum: Bukan Kejam, Tetapi Menjaga Kehormatan Manusia

Islam menerapkan hukum yang tegas terhadap kejahatan seksual, namun dengan syarat pembuktian yang sangat ketat. Ini melindungi masyarakat dari kerusakan sambil mencegah kriminalisasi berlebihan.

Sanksi terhadap zina, pelecehan, prostitusi, dan produksi konten maksiat diberlakukan tidak untuk menghukum semata, tetapi untuk menjaga kehormatan, mencegah kriminal, dan melindungi generasi.

Praktik pada masa sahabat dan Khilafah menunjukkan bahwa kejahatan seksual sangat jarang terjadi, bukan karena masyarakatnya suci, tetapi karena struktur sosialnya sehat.


Negara: Pondasi Tertinggi Yang Menjaga Suasana Bersih

Ini aspek yang paling sering dihilangkan dalam diskusi sosial.
Dalam Islam, negara bukan hanya administrator, tetapi penjaga moral publik.

Kewajibannya:
– menutup industri maksiat,
– mengatur media,
– membangun ekonomi adil,
– menindak pelanggar syariat,
– mendidik masyarakat,
– menciptakan suasana sosial yang bersih.

Rasulullah ﷺ membangun Madinah di atas fondasi ini.
Umar bin Khattab menegakkan ketertiban sosial secara ketat, bahkan mengawasi pasar malam dan interaksi masyarakat.
Pada masa Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah, seni, ilmu, dan peradaban berkembang tanpa menggadaikan moral publik.


Menutup Lingkaran: Perubahan Harus Menjadi Sistemik

Fenomena pergaulan rusak hari ini bukan sekadar fenomena viral, tetapi hasil dari desain peradaban. Kita tidak bisa hanya menambal lubang dengan nasihat moral. Tidak bisa hanya berharap pada program literasi. Tidak bisa hanya menumpukan harapan pada kampanye digital.

Kita membutuhkan sistem hidup yang benar.

Sistem yang melindungi mata, hati, keluarga, ekonomi, dan negara dari arus merusak. Sistem yang pernah melahirkan peradaban besar dengan manusia-manusia berintegritas tinggi.

Dan sistem itu bernama: Islam.

Bila kita ingin generasi hari ini pulih dari luka, jalan itu sudah tersedia—tinggal apakah kita berani menapakinya atau tidak.

Comments