Isra’ Mi’raj: Ujian Keimanan dan Seruan Ketaatan
Oleh: Azizah Aminawati
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam yang terjadi pada
malam 27 Rajab. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ diperjalankan oleh Allah dari
Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu dinaikkan ke
langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik,
tetapi perjalanan keimanan yang melampaui batas logika manusia.
Allah ﷻ mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an:
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari
dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Isra’ Mi’raj menjadi ujian keimanan bagi kaum Muslimin saat itu. Banyak
yang meragukan, bahkan mendustakan Rasulullah ﷺ. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq
tampil sebagai sosok dengan iman yang menghujam, beliau membenarkan tanpa
syarat, tanpa ragu. Dari sinilah terlihat jelas pemisah antara iman yang kokoh
dan iman yang rapuh (munafik).
Peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa keimanan bukan sekedar dipercaya
dalam hati, tetapi juga tentang kesiapan untuk tunduk dan taat sepenuhnya
kepada apa pun yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Islam yang dibawa
Rasulullah ﷺ adalah syariat yang paripurna, menyeluruh, dan mengatur seluruh
aspek kehidupan, bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sosial, ekonomi,
politik, dan peradaban.
Sehingga memperingati Isra’ Mi’raj seharusnya tidak berhenti pada
seremoni tahunan. Peringatan ini harus menjadi momentum muhasabah, apakah kita
benar-benar telah menjadikan Islam sebagai pedoman hidup atau hanya memilih
syariat yang kita suka saja?
Padahal jika kita menoleh pada realitas dunia Islam hari ini, luka umat
masih terbuka lebar. Palestina tanah yang menjadi saksi perjalanan Isra’ Mi’raj
Rasulullah ﷺ saat ini masih berada di bawah penjajahan. Demikian pula
penderitaan yang dialami kaum Muslimin di Rohingya, Uyghur, Sudan dan berbagai
wilayah lainnya. Setelah runtuhnya institusi Khilafah Utsmaniyah pada 1924,
dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara bangsa. Kaum Muslimin dipisahkan
oleh batas buatan kolonial (Sykes–Picot) dan diterapkan ditengah-tengah mereka sistem
hukum dan politik warisan Barat
Fakta ini menunjukkan bahwa umat Islam belum berada pada satu
kepemimpinan yang bisa melindungi dan mempersatukan kaum Muslimin. Sistem
sekuler-kapitalistik yang mendominasi dunia hari ini terbukti gagal
menghadirkan keadilan dan keamanan. Maka, penderitaan umat bukan sekadar
persoalan kemanusiaan, tetapi persoalan sistemik yang membutuhkan solusi Islam.
Bulan Rajab yang menjadi bulan terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj seharusnya
menjadi titik nyala semangat perjuangan pemuda muslim. Inilah momen untuk
memperkuat tekad belajar Islam secara ideologis dan menyeluruh, sekaligus
mengemban dakwah Islam sesuai dengan thariqah dakwah Rasulullah ﷺ.
Pemuda Muslim tidak cukup hanya menjadi penonton sejarah. Mereka harus
mengambil peran sebagai pelanjut estafet perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat mulia terdahulu untuk menyeru
pada penerapan Islam secara kaffah dan membebaskan umat dari belenggu
penjajahan dan sistem yang rusak. Isra’ Mi’raj bukan hanya kisah masa lalu,
tetapi seruan untuk bangkit hari ini dengan menguatkan kembali keimanan,
menegakkan ketaatan, dan memperjuangkan kemuliaan Islam kaffah.
Dari bulan Rajab ini, semoga lahir generasi yang memiliki keimanan
menghujam, berpikir jernih, dan berani mengambil peran dalam dakwah Islam
sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dengan kesadaran itu, umat tidak
lagi pasrah pada realitas penjajahan dan ketidakadilan, tetapi bangkit menapaki
jalan kemuliaan Islam, dengan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah akan
datang sebagaimana Dia menolong Rasul-Nya di malam Isra’ Mi’raj. Wallahu
a'lam bishawab
.png)
.png)

Comments
Post a Comment